Rabu, 15 Juni 2011

Dzikir kepada Allah, sedekah yang paling baik


Setiap orang memiliki harta benda namun tidak setiap orang memiliki harta berlebih. Kadangkala kita sendiri merasa kurang harta dalam menjalani kehidupan ini. Tidak jarang ini menimbulkan keresahan, kegelisahan, takut akan masa depan dan menimbulkan rasa tidak percaya diri.
Semuanya karena harta benda yang kita miliki sedikit, rumah sederhana, tidak punya kendaraan, kalau pun ada hanya sepeda motor. Sementara kita melihat sekeliling tampak seperti bergelimang harta, dimudahkan dalam perjalanan dan hidup serba nyaman.
Jangan bersedih. Semuanya adalah rezeki Allah. Bersama Allah hati kita menjadi tenang meskipun tanpa harta benda berlebih. Bahwa kita sudah berusaha semaksimal mungkin meraih rezeki Allah namun hanya sedikit yang kita dapatkan, tetaplah bersyukur. Tetaplah berikhtiar lalu bertawakal.
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ditanya: “Hamba yang bagaimanakan yang paling baik di sisi Allah pada hari Kiamat?. Beliau menjawab: “Orang yang banyak berdzikir”.
Maka dengan hadits ini maka posisi yang baik bisa diraih dengan banyak berdzikir kepada Allah.
Bahkan Rasulullah menyatakan jika tidak memiliki kelebihan harta maka ucapkanlah Subhaanallah, Allahu Akbar, Alhamdulillah dan Laa Ilaaha Ilallah.
Dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Setiap lafadz suci ini memiliki pahala seperti pahala sedekah. Hal ini disebabkan lafadz-lafadz itu adalah amalan yang kekal sebagaimana Allah berfirman:
Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya disisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi: 46)
Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Ankabut:45)
Kini saatnya setiap langkah dan gerak, ketika dalam perjalanan, ketika berjumpa dengan sahabat, ketika mengobrol senantiasa membicarakan dan membincangkan dzikir, bukan membicarakan orang lain. Tingkatkan dzikrullah dengan membacakan kalimah-kalimah suci ini. Wallahu’alam bishawab.

0 komentar:

Posting Komentar